tulisan yang nggak perlu dibaca bagi: kaum fanatik, ekstrim, berpikiran dangkal, merasa benar sendiri, tidak terbuka akan perbedaan orang lain.
Showing posts with label social. Show all posts
Showing posts with label social. Show all posts
Feb 21, 2011
Jangan Nulis Blog atau Status FB segala!
"gak usah nulis2 blog atau di status FB begini"
Beberapa kali aku bertemu dengan orang seperti itu di dunia internet ini. Jaman berubah, pola orang berpendapat juga berubah. Bagi yang mengikuti perkembangan jaman pasti tidak akan kaget dan mau berbaur dengan teknologi, contohnya ya menggunakan teknologi untuk berpendapat, walau pada akhirnya tidak bisa dihindari benturan-benturan dengan pihak yang resistif.
Di masa sebelum online networking dan social media ada, statement yang disampaikan seseorang hanya seputaran area dimana dia berbicara, atau paling tida di-spread oleh media yang belum tentu mau men-spread semua berita. Hanya berita terpilih saja sehingga informasi mudah di-drive.
Namun tidak saat ini, semua bisa berbicara dan bisa didengar oleh siapa saja atau bahkan didengar oleh semuanya karena banyak repeater atau forwarder yang tidak perlu menunggu perintah atau bayaran untuk me-re-spread, me-repeat dan mem-forward statement-statement, apalagi statement yang mewakili opini banyak orang.
Sehingga kerap benturan itu terjadi karena masih banyak dari kita yang tidak mau mengikuti perkembagan teknologi atau memang mengisolasi diri dari teknologi baru tersebut. Mereka menganggap tabu jika seseorang mengumbar kata-kata di media sosial. Mereka tidak menyadari bahwa teknologi jauh lebih cepat berlari dan mereka tertinggal jauh, semakin jauh.
May 26, 2009
aku dah bosan dengan barang2 murah
Aku dah bosan dengan barang2 murah, kebanyakan dari mereka nggak enak dipakai dan mudah rusak. atas nama pengiritan dan tidak bergaya hidup mewah aku rela beli barang2 yang murah dan tidak bermerek internasional. tapi, setelah sekian umur hidup si barang itu, aku harus mencari barang penggantinya. jadi tetep aja keluar duit lagi, dimana "tidak bergaya hidup mewah"-nya?
Menjadi tokoh masyarakat atau bahasa kerennya public figure, walaupun publicnya bagi sekitarku saja (boleh dong) membuatku banyak menerima kritikan dan inputan. Salah satunya adalah aku sangat konsumtif dan percaya banget dengan merek. Dibilangnya juga aku ini ratu belanja dan miss discount. Dibilangnya juga aku tidak mencintai produk lokal, dan suka menjelek2kan produk yang sudah jelas jelek itu.
Sehingga suatu ketika aku memutuskan untuk memulai beli barang2 murah dan bermerek lokal. Salah satunya yg pertama, aku beli cardigan di tanabang. daripada beli di rumah mode walopun barang sisa exspor, tapi bagi sebagian orang, itu mahal. Ya sudah aku mencoba beli di tanah abang. Murah sekali, hanya dengan rp25ribu aku bisa beli sweater kardigan dengan warna2 cerah. dan aku pakai dong, beberapa jam setelah aku pakai, kancingnya lepas. bagooos! Ini tidak terjadi di sweaterku yg aku beli rp129rb di rumah mode. Apalagi aku beli sweater di mango ya?
Di suatu hari yang lain aku beli sepatu rotelli tapi yang kelas low end. nggak sampai rp200rb aku bawa sepasang sepatu rotelli-low end itu ke rumah. Dan keesokannya aku pakai dong ke kantor, dan jempolku sakiiit banget setelah 3 jam make sepatu itu. Gak mungkin dong aku nyoba dulu sepatu di toko selama 3 jam terus kalo gak cocok dibalikin? Dan ini tidak terjadi dengan sepatu ku yang harganya rp700rb di everbest. Demi tidak bergaya hidup mewah aku harus menahan sakit dan melepas sepatu setelah 3 jam memakainya? omigod!
Di kali yang lain aku beli mainan anak di tanah abang (lagi), mainan kulintang dengan harga rp25rb. belum seminggu dimainin si daphe, alat pemukul kulintang itu patah, dan ini tidak terjadi di mainan daphne yg bermerek fisher price yang tiap hari dibanting ama dia, sudah sejak dia belum setahun hingga skg sudah mo 19 bulan, masih manteng aja bagus tidak cuil sedikitpun.
Dan masih banyak lagi, dan sekarang aku putuskan untuk mementingkan kualitas dan kenyamanan disaat membeli barang, selama cashflow mengijinkan, kenapa tidak?
Jadi please deh jangan demi slogan mencintai produk sendiri, demi slogan supaya uang masuk kembali ke kita, kita dipaksa mengkonsumsi sesuatu yang menyiksa kita.
Subscribe to:
Posts (Atom)
