tulisan yang nggak perlu dibaca bagi: kaum fanatik, ekstrim, berpikiran dangkal, merasa benar sendiri, tidak terbuka akan perbedaan orang lain.
Showing posts with label sosial. Show all posts
Showing posts with label sosial. Show all posts
Feb 21, 2011
Jangan Nulis Blog atau Status FB segala!
"gak usah nulis2 blog atau di status FB begini"
Beberapa kali aku bertemu dengan orang seperti itu di dunia internet ini. Jaman berubah, pola orang berpendapat juga berubah. Bagi yang mengikuti perkembangan jaman pasti tidak akan kaget dan mau berbaur dengan teknologi, contohnya ya menggunakan teknologi untuk berpendapat, walau pada akhirnya tidak bisa dihindari benturan-benturan dengan pihak yang resistif.
Di masa sebelum online networking dan social media ada, statement yang disampaikan seseorang hanya seputaran area dimana dia berbicara, atau paling tida di-spread oleh media yang belum tentu mau men-spread semua berita. Hanya berita terpilih saja sehingga informasi mudah di-drive.
Namun tidak saat ini, semua bisa berbicara dan bisa didengar oleh siapa saja atau bahkan didengar oleh semuanya karena banyak repeater atau forwarder yang tidak perlu menunggu perintah atau bayaran untuk me-re-spread, me-repeat dan mem-forward statement-statement, apalagi statement yang mewakili opini banyak orang.
Sehingga kerap benturan itu terjadi karena masih banyak dari kita yang tidak mau mengikuti perkembagan teknologi atau memang mengisolasi diri dari teknologi baru tersebut. Mereka menganggap tabu jika seseorang mengumbar kata-kata di media sosial. Mereka tidak menyadari bahwa teknologi jauh lebih cepat berlari dan mereka tertinggal jauh, semakin jauh.
FIlm Impor sudah tidak ada lagi?
Bagi masyarakat awam, sangat sulit untuk menerima kondisi bahwa film impor tidak akan bisa dinikmati lagi di bioskop-bioskop Indonesia karena pemerintah Indonesia membebani lagi dengan pajak baru.
Apalagi kondisi rakyat yang masih trauma akan kasus-kasus korupsi dan penyalahgunaan yang terjadi di sistem pemerintahan serta perpajakan di Indonesia ini.
Setiap penonton bioskop dengan sadar bahwa tiket yang dibelinya sudah tercakup pajak yang pasti akan masuk ke kantong pemerintah. Namun itu mungkin belum cukup sehingga pemerintah menambah kembali pajak masuk untuk film-film impor tersebut.
Alih-alih untuk meningkatkan kualitas film Nasional, tetap saja tidak ada langkah nyata untuk menghidupkan industri perfilman kita. Apakah dengan membuat film impor membayar lebih pajak ke pemerintah, lalu terjadi peningkatan kualitas film lokal? tentu saja tidak. Kualitas film nasional tidak ada hubungannya dengan pembebanan pajak kepada film impor tersebut. karena film nasional juga mendapatkan nasib yang sama, bayar pajak juga.
Jan 30, 2011
Nggak Nyangka
Kehidupan pernikahan kawan-kawan seangkatanku sudah menginjak lewat 10 tahun, kebanyakan. Dan selama inim sejak masa kuliah hingga saat ini sangat banyak yang terjadi. Mulai dari perceraian pertama yang terjadi, perselingkuhan, poligami, pernikahan kedua dst.
Perceraian selalu menjadi berita heboh yang sering diperbincangkan. Karena multiversi masalah yang terjadi sehingga membuat hal-hal tersebut dan yang terkait selalu tidak lalai untuk dibicarakan.
Yang sering terlontar adalah komentar: "nggak nyangka ya, nggak kelihatan", "pandai banget menutup-nutupi permasalahannya", "kuat sekali dia memendam sakit hatinya selama ini", "akhirnya nyerah juga dia".
Permasalahan rumah tangga memang bukan untuk konsumsi khalayak ramai, sehingga wajarlah jika sebagian pasangan tidak memperlihatkan ada masalah diantara mereka. Tiba-tiba cerai aja dan yang lain-lain terhenyak takjub.
Jan 26, 2011
Jagalah Kebersihan Mulut dan Hati Anda

Suatu ketika seseorang bercerita dan berkeluh kesah tentang dirinya yang teraniaya oleh seseorang yang lain. Alkisah dirinya merasa ditipu dan diperdayai oleh seseorang yang lain itu dan dirinya sangat menderita lahir dan batin. Setidaknya itulah yang terlihat pada saat dia bercerita.
Namun anehnya seseorang yang lain itu bersikap biasa-biasa saja seperti tiada yang terjadi dan memperlihatkan bahwa seseorang yang lain itu masih berhubungan baik dengan dirinya yang berkeluh kesah tadi. Thats a clue.
Dan pada kali selanjutnya dirinya kembali tetap memposisikan dirinya sebagai orang yang dianiaya kembali oleh seseorang yang lain tadi, dan seperti tidak pernah terjadi bahwa dia pernah merasa teraniaya oleh seseorang yang lain tadi, apakah arti semua itu? hobi dianiaya? suka diperdayai? terlahir untuk menderita?
So please dude... bagus jika anda menjadi pendengar yang baik bagi lingkungan anda, tapi better kita pasang filter, curhatan yang mana yang worthed untuk diproses, dan curhatan yang mana yang patut kita anggap sebagai ring back tone gratisan yang dipaksa untuk reg.
Apr 14, 2009
pembunuhan karakter
"Satu guru satu ilmu jangan ganggu"
Statement di atas memang "dalem" maknanya. Ujaran seperti itu mungkin berawal dari intervensi beberapa pihak akan sesua
tu yang sebenarnya tidak ada kaitan secara langsung terhadap yang mengintervensi tadi.
Sudah menjadi jamak di lingkungan orang yang belajar, ada yang merasa lebih tau, ada yang merasa orang lain lebih tau daripada dia sehingga dia berkiblat kepada orang pertama tadi bahkan tanpa tedeng aling2 percaya 100 persen dengan kata2 orang pertama tadi.
Ada juga yang tidak mau tau, apakah orang lain tau, atau tidak tau atau bahkan tidak mau tau. Kondisi sosial inilah yang membuat sebuah ide yang dilempar ke masyarakat kita mengalami proses yang bermacam2. Yang paling sering adalah terjadinya proses pembelokan atau bahkan mungkin penghancuran ide tadi oleh pihak yang mungkin merasa lebih tahu, merasa mengerti apa yang akan terjadi walaupun, sekali lagi mungkin, karena basis experience dia saja, atau studi literatur yang minim, atau bahkan fanatisme buta yang menganggap semua hal di luar yang dia pegang tadi salah.
Kondisi seperti ini yang tentunya bisa membuat bias atau bahkan mati, ide fresh yang dilempar ke masyarakat tadi, walau ide tadi penuh dengan asumsi dan prekondisi yang masih sangat open dan menerima masukan dari semua dasar pemikiran.
Masyarakat kita masih jamak, beragam cara penerimaannya. Masih banyak yang mudah terbawa euphoria, walau belum tentu juga kebenaran euporia tadi. Jika banyak masyarakat lain berkata 'A' maka sekian persen masyarakat yang belum 'A' akan serta merta beralih ke 'A'. Itulah masyarakat kita, masih gampang banget dibelok-belokkan. Dari kecil kita masih sangat tergantung dengan apa yang dikatakan oleh guru kita, belum ada referensi lain. Semoga dengan adanya google, anak2 kita, generasi berikutnya, akan tidak seperti ini. Selalu mengumpulkan referensi lain dalam melakukan penerimaan sebuah ide.
Yang lebih menyedihkan, ada sebagian pihak yang memanfaatkan kondisi ini untuk mengganggu, bahkan merusak proses pendistribusian ide tadi. Entah karena dasar cemburu, takut tersaingi, atau karena trauma mendalam yang tidak ada korelasinya dengan ide tad
Statement di atas memang "dalem" maknanya. Ujaran seperti itu mungkin berawal dari intervensi beberapa pihak akan sesua
tu yang sebenarnya tidak ada kaitan secara langsung terhadap yang mengintervensi tadi.
Sudah menjadi jamak di lingkungan orang yang belajar, ada yang merasa lebih tau, ada yang merasa orang lain lebih tau daripada dia sehingga dia berkiblat kepada orang pertama tadi bahkan tanpa tedeng aling2 percaya 100 persen dengan kata2 orang pertama tadi.
Ada juga yang tidak mau tau, apakah orang lain tau, atau tidak tau atau bahkan tidak mau tau. Kondisi sosial inilah yang membuat sebuah ide yang dilempar ke masyarakat kita mengalami proses yang bermacam2. Yang paling sering adalah terjadinya proses pembelokan atau bahkan mungkin penghancuran ide tadi oleh pihak yang mungkin merasa lebih tahu, merasa mengerti apa yang akan terjadi walaupun, sekali lagi mungkin, karena basis experience dia saja, atau studi literatur yang minim, atau bahkan fanatisme buta yang menganggap semua hal di luar yang dia pegang tadi salah.
Kondisi seperti ini yang tentunya bisa membuat bias atau bahkan mati, ide fresh yang dilempar ke masyarakat tadi, walau ide tadi penuh dengan asumsi dan prekondisi yang masih sangat open dan menerima masukan dari semua dasar pemikiran.
Masyarakat kita masih jamak, beragam cara penerimaannya. Masih banyak yang mudah terbawa euphoria, walau belum tentu juga kebenaran euporia tadi. Jika banyak masyarakat lain berkata 'A' maka sekian persen masyarakat yang belum 'A' akan serta merta beralih ke 'A'. Itulah masyarakat kita, masih gampang banget dibelok-belokkan. Dari kecil kita masih sangat tergantung dengan apa yang dikatakan oleh guru kita, belum ada referensi lain. Semoga dengan adanya google, anak2 kita, generasi berikutnya, akan tidak seperti ini. Selalu mengumpulkan referensi lain dalam melakukan penerimaan sebuah ide.
Yang lebih menyedihkan, ada sebagian pihak yang memanfaatkan kondisi ini untuk mengganggu, bahkan merusak proses pendistribusian ide tadi. Entah karena dasar cemburu, takut tersaingi, atau karena trauma mendalam yang tidak ada korelasinya dengan ide tad
fenomena warung-ayu
Ini malam keduaku di Magetan, liburan kali ini dan malam ini baru sempat kami keluar jalan2 liat2 kota magetan dan ngider keliling-keliling kota. Seperti kota2 lain di jawa, alfa mart dan indomaret ada di kota kecil ini. Kesitulah kami membeli barang2 kebutuhan sehari2. Kasian emang warung2 kecil serta pasar tradisional, bahan2 kebutuhan pokok bisa dibeli di mart2 baru yang moderen itu.
Setelah belanja di alfa mart, jalan lah kita mengelilingi kota magetan yg kecil dan itu2 saja. Dalam waktu kurang dari satujam kota magetan sudah kita kelilingi.
Sepanjang mengelilingi kota, adikku cerita tentang perkembangan sudut demi sudut kota magetan. Dan semuanya terasa kurang menarik bagi jiwa jurnalis amatir seperti aku ini. Jadi cuma aku jawab dengan ooo, emmm, oo gitu. Sampai pada sebuah cerita tentang ngetren-nya warung2 kopi malam hari yg bertebaran di sudut2 kota dan juga di tengah kota Magetan. Cerita adikku ini bermula saat kami melewati stadion olah raga kota magetan yang sudah ada sejak aku... Sd barangkali. Saat ini stadion itu terlihat kurang terawat jika dibanding 2 bangunan baru nan megah di sebelahnya yaitu GOR dan gedung DPRD.
Aku tanya dong ke adikku: apa ini masih stadion?, ooo masih, tapi kalau malam jadi warung2 ayu.
Warung ayu? Apa itu?
Itu loh, warung kopi yang bukanya di malam hari dan dijaga oleh mbak2 yang ayu2.
Jadi semua penjaga warung ayu ini pasti ayu orangnya?
Gak selalu, tapi walaupun gak ayu, biasanya montok dan berpakaian seksi. Tapi banyak juga sih yang ayu wajahnya, biasanya yg berwajah ayu, warungnya cepat terkenal dan orang2 pada mau datang, minum kopi dan lihat mbaknya yang ayu itu.
Apa saja menu warung ayu?
Biasa aja seperti warung kopi umumnya di kota kecil magetan. Kopi susu teh, dan minuman sachet lain seperti milo, capucino dll. Dan snacknya antara pisang goreng, kacang dan gorengan lain. Bervariasi antara warung satu dan lainnya.
Kenapa orang2 senang datang ke warung ayu?
Yaiyalah senang, beli kopi cuma segelas, paling tiga ribuan, tapi nangkringnya bisa tiga jam. Makin ayu mbaknya yang jaga, makin ramah mbaknya yang jaga, makin bisa digoda mbaknya yang jaga, makin lama pulalah pengunjung warung ayu itu nangkring.
Ada layanan lain?
Hmm ada sih beberapa warung menyediakan mbak ayu plus-plus yang bisa diajak menemani tamunya.
Kemana biasanya?
Wah ya gak tau pasti, karena warung ayu itu tempat terbula, jadi kemungkinan kecil dilakukan di tempat. Paling2 ya hotel di kota ini.
Ya ampun, hotel disini kan cuma itu, itu dan itu saja selain di sarangan.
Dan warung ayu ini tidak cuma satu dua saja keberadaannya. Mulau dari stadion di pinggir kota hingga di alun-alun pusat kota ada banyak warung ayu ini. Demikian juga di depan rumahku. Yaiyalah depan rumahku kan terminal bus. Terminal, sebagian besar kota kecil di indonesia terminal busnya cuma bekerja di siang hari. Lepas magrib, kosong, sepi, san tumbuhlah warung ayu.
Banyak pengunjung warung ayu, dan rata-rata laki2. Yaiyalah ngapain juga ibu2 malam2 kelayapan ke warung. Nah kenapa bapak2 yang kelayapan? Ke warung ayu pula??
Setelah belanja di alfa mart, jalan lah kita mengelilingi kota magetan yg kecil dan itu2 saja. Dalam waktu kurang dari satujam kota magetan sudah kita kelilingi.
Sepanjang mengelilingi kota, adikku cerita tentang perkembangan sudut demi sudut kota magetan. Dan semuanya terasa kurang menarik bagi jiwa jurnalis amatir seperti aku ini. Jadi cuma aku jawab dengan ooo, emmm, oo gitu. Sampai pada sebuah cerita tentang ngetren-nya warung2 kopi malam hari yg bertebaran di sudut2 kota dan juga di tengah kota Magetan. Cerita adikku ini bermula saat kami melewati stadion olah raga kota magetan yang sudah ada sejak aku... Sd barangkali. Saat ini stadion itu terlihat kurang terawat jika dibanding 2 bangunan baru nan megah di sebelahnya yaitu GOR dan gedung DPRD.
Aku tanya dong ke adikku: apa ini masih stadion?, ooo masih, tapi kalau malam jadi warung2 ayu.
Warung ayu? Apa itu?
Itu loh, warung kopi yang bukanya di malam hari dan dijaga oleh mbak2 yang ayu2.
Jadi semua penjaga warung ayu ini pasti ayu orangnya?
Gak selalu, tapi walaupun gak ayu, biasanya montok dan berpakaian seksi. Tapi banyak juga sih yang ayu wajahnya, biasanya yg berwajah ayu, warungnya cepat terkenal dan orang2 pada mau datang, minum kopi dan lihat mbaknya yang ayu itu.
Apa saja menu warung ayu?
Biasa aja seperti warung kopi umumnya di kota kecil magetan. Kopi susu teh, dan minuman sachet lain seperti milo, capucino dll. Dan snacknya antara pisang goreng, kacang dan gorengan lain. Bervariasi antara warung satu dan lainnya.
Kenapa orang2 senang datang ke warung ayu?
Yaiyalah senang, beli kopi cuma segelas, paling tiga ribuan, tapi nangkringnya bisa tiga jam. Makin ayu mbaknya yang jaga, makin ramah mbaknya yang jaga, makin bisa digoda mbaknya yang jaga, makin lama pulalah pengunjung warung ayu itu nangkring.
Ada layanan lain?
Hmm ada sih beberapa warung menyediakan mbak ayu plus-plus yang bisa diajak menemani tamunya.
Kemana biasanya?
Wah ya gak tau pasti, karena warung ayu itu tempat terbula, jadi kemungkinan kecil dilakukan di tempat. Paling2 ya hotel di kota ini.
Ya ampun, hotel disini kan cuma itu, itu dan itu saja selain di sarangan.
Dan warung ayu ini tidak cuma satu dua saja keberadaannya. Mulau dari stadion di pinggir kota hingga di alun-alun pusat kota ada banyak warung ayu ini. Demikian juga di depan rumahku. Yaiyalah depan rumahku kan terminal bus. Terminal, sebagian besar kota kecil di indonesia terminal busnya cuma bekerja di siang hari. Lepas magrib, kosong, sepi, san tumbuhlah warung ayu.
Banyak pengunjung warung ayu, dan rata-rata laki2. Yaiyalah ngapain juga ibu2 malam2 kelayapan ke warung. Nah kenapa bapak2 yang kelayapan? Ke warung ayu pula??
Subscribe to:
Posts (Atom)


