Apr 14, 2009

pembunuhan karakter

"Satu guru satu ilmu jangan ganggu"

Statement di atas memang "dalem" maknanya. Ujaran seperti itu mungkin berawal dari intervensi beberapa pihak akan sesua
tu yang sebenarnya tidak ada kaitan secara langsung terhadap yang mengintervensi tadi.

Sudah menjadi jamak di lingkungan orang yang belajar, ada yang merasa lebih tau, ada yang merasa orang lain lebih tau daripada dia sehingga dia berkiblat kepada orang pertama tadi bahkan tanpa tedeng aling2 percaya 100 persen dengan kata2 orang pertama tadi.

Ada juga yang tidak mau tau, apakah orang lain tau, atau tidak tau atau bahkan tidak mau tau. Kondisi sosial inilah yang membuat sebuah ide yang dilempar ke masyarakat kita mengalami proses yang bermacam2. Yang paling sering adalah terjadinya proses pembelokan atau bahkan mungkin penghancuran ide tadi oleh pihak yang mungkin merasa lebih tahu, merasa mengerti apa yang akan terjadi walaupun, sekali lagi mungkin, karena basis experience dia saja, atau studi literatur yang minim, atau bahkan fanatisme buta yang menganggap semua hal di luar yang dia pegang tadi salah.

Kondisi seperti ini yang tentunya bisa membuat bias atau bahkan mati, ide fresh yang dilempar ke masyarakat tadi, walau ide tadi penuh dengan asumsi dan prekondisi yang masih sangat open dan menerima masukan dari semua dasar pemikiran.

Masyarakat kita masih jamak, beragam cara penerimaannya. Masih banyak yang mudah terbawa euphoria, walau belum tentu juga kebenaran euporia tadi. Jika banyak masyarakat lain berkata 'A' maka sekian persen masyarakat yang belum 'A' akan serta merta beralih ke 'A'. Itulah masyarakat kita, masih gampang banget dibelok-belokkan. Dari kecil kita masih sangat tergantung dengan apa yang dikatakan oleh guru kita, belum ada referensi lain. Semoga dengan adanya google, anak2 kita, generasi berikutnya, akan tidak seperti ini. Selalu mengumpulkan referensi lain dalam melakukan penerimaan sebuah ide.

Yang lebih menyedihkan, ada sebagian pihak yang memanfaatkan kondisi ini untuk mengganggu, bahkan merusak proses pendistribusian ide tadi. Entah karena dasar cemburu, takut tersaingi, atau karena trauma mendalam yang tidak ada korelasinya dengan ide tad

1 comment:

  1. Seguru se elmu ojo ngganggu = sesama bis kota dilarang mendahului :)

    ReplyDelete