Jan 16, 2006

Jakarta, kota yg mengajarkanku untuk egois

sudah hampir 3 tahun aku tinggal di jakarta. benar-benar tinggal, dimana dari senin ke senin aku menghirup udara jakarta, menjejak di bumi jakarta dan terlelap di keruhnya malam jakarta.

akhir2 ini aku menyadari perubahan yang terjadi di aku. aku menjadi makin cuek dan makin risk taking. entah kenapa kehidupan dan lingkungan jakarta membuatku untuk tidak terlalu mempedulikan orang lain mo bagaimana. mo sebelah kita lempar2an piring, mo sebelah kita pukul2an, mo sebelah kita bunuh2an pun, mungkin aku cenderung diam saja dan cari aman. gk ikut2an dan minggir aja pura2 gak tau menau.

beda dengan dulu sebelum pindah ke kota yang egois dan mata duitan ini, dulu menolong adalah kegiatan sehari2 non komersil. dan tidak ada bantahan di hati kenapa kita harus menolong orang lain, ya emang harus, titik. kalo di jakarta selalu ada pertanyaan, mengapa kita harus nolongin dia? dia itu siapa? emang dia orangnya baik ama kita? emang dia bukan orang jahat? kalo ternyata dia jahat, kita juga kan yg kena getahnya?

dulu aku sangat sopan dan sangat menghormati semua orang yang ada di lingkungan, bahkan orang2 iseng yang suka ber-suit2, dan ber-psst-psst di pinggir jalan saat aku lewat, berjalan kaki, aku cuma diam dan melupakannya, as long as gk nyenggol2 gw. tapi sekarang, saking seringnya hal itu terjadi, dan bahkan sepertinya menjadi hal yang lumrah jika ada perempuan berjalan kaki di depannya, maka dia harus bereaksi sampe ngajak kenalan.

mungkin dulu hal itu aku diamkan dan hindari, bahkan lari jgn sampe ketemu orang itu. tapi kini, saking betenya, saking malesnya menghadapi hal menyebalkan itu di keesokan harinya, aku lebih sering datangin dan tanya, mau apa mas? kenapa manggil2? pengen kenal? saya dewi, trus kalo dah kenal mau apa?
ujung2nya orang itu cuma nyengir dan jawab,"nggak apa2 kok mbak, seneng aja bisa kenalan..."

No comments:

Post a Comment